PERILAKU
POLITIK
“DARI
AKTOR POLITIK HINGGA MASYARAKAT PEMILIH”
Disusun Guna
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Umum Etika
Politik
disusun oleh :
Bima 3312413010
Putri Wahyu febriani 3312413053
Alfiani Agustin 3312413029
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
FAKULTAS ILMU
SOSIAL
2014
KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat serta karunia-NYA kepada saya sehingga saya
berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang
berjudul “PERILAKU POLITIK DARI AKTOR
POLTIK HINGGA MASYARAKAT PEMILIH”
Makalah ini secara umum berisikan
tentang perilaku para aktor politik indonesia sekarang yang mencitrakan dirinya
tidak lagi sebagai orang yang hebat tapi sebagai orang yang buruk dan
masyarakat pemilih yang cenderung menyalahkan aktor politik dengan apa yang
telah dilakukan tanpa melihat siapa yang memilihnya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha saya. Amin.
Semarang, 1 November 2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perilaku
politik adalah sebagai salah-satu aspek dari ilmu politik yang berusaha untuk mendefinisikan, mengukur dan menjelaskan pengaruh
terhadap pandangan politik seseorang, ideologi dan tingkat partisipasi politik. Secara teoritis, perilaku politik
dapat diurai dalam tiga pendekatan utama yakni melalui pendekatan sosiologi,
psikologi dan rasionalitas.
Menurut
Ramlan Surbakti perilaku politik kegiatan yang berkenaan dengan proses
permbuatan dan pelaksanaan keputusan politik yang dilakukan oleh pemerintah dan
masyarakat.
Model
faktor perilaku politik yang mempengauhi aktor politik. Pertama, lingkungan
sosial politik tak langsung, seperti sistem poltik, sistem ekonomi, sistem budaya,
dan media massa. Kedua, lingkungan sosial politik langsung yang mempengaruhi
dan membentuk kepribadian aktor, seperti keluarga, agama, sekolah dan kelompok
pergaulan. Ketiga, struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu.
Keempat, faktor lingkungan sosial politik lamhsumh berupa situasi.
Perilaku politik meliputi tanggapan
internal seperti persepsi, sikap, orientasi dan keyakinan serta
tindakan-tindakan nyata seperti pemberian suara, protes, lobi dan sebagainya.
Persepsi politik berkaitan dengan gambaran suatu obyek tertentu, baik mengenai
keterangan, informasi dari sesuatu hal, maupun gambaran tentang obyek atau
situasi politik dengan cara tertentu ( Fadillah Putra, 2003 : 200 ).
Perilaku
politik cenderung mempunyai budaya politik, menurut Almond dan Verba, Budaya
politik adalah sikap orientasi yang sangat khas dari warga negara terhadap
sistem politik dan keanekaragaman bagiannya, serta sikap-perilaku warga
terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem politik itu.
Pada kebudayaan politik indonesia adanya sebuah
budaya yang dominan, yang berasal dari kelompok etnis yang dominan pula, yaitu
kelompok etnis jawa. Etnis ini sangat mewarnai sikap, prilaku, dan orientasi
politik kalangan elit politik indonesia. Karena, bagi masyarakat jawa kekuasaan itu pada
dasarnya konkri, besarannya konstan, sumbernya homogen, dan tidak berkaitan
dengan legitimasi. Hal itu di perlihatkan dengan cara berekspresi melalui
bahasa atau pola memperlihatkan mimik/perilaku, yang diwujudkan lewat bahasa
yang halus.
Perilaku pemilih merupakan tingkah laku
seseorang dalam menentukan pilihannya yang dirasa paling disukai atau paling
cocok. Secara umum teori tentang perilaku memilih dikategorikan kedalam
dua kubu yaitu ; Mazhab Colombia dan Mazhab Michigan ( Fadillah Putra ,
2003 : 201 ). Mazhab Colombia menekankan pada faktor sosiologis dalam membentuk
perilaku masyarakat dalam menentukan pilihan di pemilu. Model ini melihat
masyarakat sebagai satu kesatuan kelompok yang bersifat vertikal dari tingkat
yang terbawah hingga yang teratas. Penganut pendekatan ini percaya bahwa
masyarakat terstruktur oleh norma-norma dasar sosial yang berdasarkan atas
pengelompokan sosiologis seperti agama, kelas ( status sosial ), pekerjaan,
umur, jenis kelamin dianggap mempunyai peranan yang cukup menentukan dalam
membentuk perilaku memilih. Oleh karena itu preferensi pilihan terhadap suatu
partai politik merupakan suatu produk dari karakteristik sosial individu yang
bersangkutan (Gaffar, Affan, 1992 : 43 ).
Dalam
karakteristik pemilih pertama Terdapat beberapa daerah/wilayah yang merupakan
kumpulan komunitas masyarakat yang terbentuk atas dasar sistim kekerabatan dan
paguyuban berdasarkan keturunan ( gemeinschaft by blood ), dan yang
menjadi pemuka masyarakat tersebut berasal dari keluarga / kerabat
asli keturunan dari orang yang dipandang terkemuka dari segi sosial ekonomi
atau terkemuka karena ketokohannya, sehingga warga masyarakat seringkali
menyandarkan diri dan sikapnya terhadap pemuka/tokoh masyarakat tersebut. Sikap ini mencerminkan adanya dominasi ketokohan yang berperan untuk
menentukan sikap dan perilaku serta orientasi warga bergantung pada pemuka
masyarakat tersebut.
Kedua,
Ikatan primordialisme keagamaan dan etnis menjadi
salah satu alasan penting dari masyarakat dalam menyikapi terhadap
elektabilitas calon legislatife. Jika seorang kandidat memiliki latar belakang
ikatan primordialisme yang sama dengan ikatan primordialisme masyarakat, maka
hal tersebut menjadi alternatif pilihan masyarakat. Ikatan emosional tersebut menjadi
pertimbangan penting bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya
Ketiga,
Komunitas masyarakat yang heterogen cenderung lebih
bersifat rasional, pragmatis, tidak mudah untuk dipengaruhi, terkadang memiliki
sikap ambivalen, berorientasi ke materi. Sikap dan pandangan untuk
memilih atau tidak memilih dalam proses politik lebih besar, sehingga tingkat
kesadaran dan partisipasi politiknya ditentukan oleh sikap dan pandangan
individu yang bersangkutan, tidak mudah untuk dipengaruhi oleh tokoh atau ikatan
primordialisme tertentu
Keterpilihan
seorang kandidat idealnya harus memenuhi standar yang diinginkan pemilih,
artinya pemilih akan menentukan pilihannya didasarkan atas seberapa besar
kontribusi dan partisipasi kandidat terhadap pemilih atau kelompok pemilih. Seberapa besar syarat-syarat kandidat terpenuhi secara umum seperti ;
kapabilitas intelektual, kapabilitas kepemimpinan, kapabilitas etika dan
moral. Kejelasan tentang visi dan misi serta program yang disampaikan kandidat,
apakah pemilih memahami akan visi dan misi dan program yang disampaikan/
dilakukan seorang kandidat sesuai dengan aspirasi, kebutuhan dan kepentingan
masyarakat banyak atau tidak. Jika hal tersebut di atas tidak dipenuhi
oleh seorang kandidat, maka pemilih pada suatu saat akan beralih sikap dan
orientasinya ke kandidat lain.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana langkah untuk mengetahui
perilaku elit politik yang menyimpang?
2.
Bagaimanaa
menjaga etika seorang elit politik?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mampu mengetahui
perilaku elit politik yang buruk.
2. Mampu memahami
pemilih yang bukan hanya menyalahkan dibelakang tapi cerdas untuk didepan.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Perilaku
politik adalah sebagai salah-satu aspek dari ilmu politik yang berusaha untuk mendefinisikan, mengukur dan menjelaskan pengaruh
terhadap pandangan politik seseorang, ideologi dan tingkat partisipasi politik. Secara teoritis, perilaku politik
dapat diurai dalam tiga pendekatan utama yakni melalui pendekatan sosiologi,
psikologi dan rasionalitas.
Menurut
Ramlan Surbakti perilaku politik kegiatan yang berkenaan dengan proses
permbuatan dan pelaksanaan keputusan politik yang dilakukan oleh pemerintah dan
masyarakat.
Model
faktor perilaku politik yang mempengauhi aktor politik. Pertama, lingkungan
sosial politik tak langsung, seperti sistem poltik, sistem ekonomi, sistem budaya,
dan media massa. Kedua, lingkungan sosial politik langsung yang mempengaruhi
dan membentuk kepribadian aktor, seperti keluarga, agama, sekolah dan kelompok
pergaulan. Ketiga, struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu.
Keempat, faktor lingkungan sosial politik lamhsumh berupa situasi.
Kalau
kita lihat sekarang partai politik tidak lagi sesuai dengan apa yang termaktub
dalam pasal 1 UU No 2 Tahun 2008 yang berbunyi “Partai Politik adalah
organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara
Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk
memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan
negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945” dalam
kenyataannya dalam DPR partai politik berebut kekuasaan sebagai pimpinan DPR
sampai ketua komisi, sampai-sampai sekarang ada pimpinan DPR tandingan untuk
menandingi pimpinan DPR yang asli, ini di karenakan kekuasaan yang dikuasai
oleh satu pihak dan membikin pihak lain tidak terima dan membikin pimpinan DPR
tandingan
tandingan-tandingan
itu bentuk ketidakdewasaan. Enggak ada itu tandingan. Ini sangat merugikan
bangsa. Pikiran-pikiran seperti itu sangat merugikan bangsa. (kata Prabowo
Subianto Kompas.com 30 Oktober 2014)
Mantan Deputi Tim Transisi Andi
Widjajanto mengatakan Presiden sangat berharap DPR sebagai eksekutif itu bisa
segera mencari solusi-solusi politik sehingga pilar-pilar kenegaraan bisa
langsung berfungsi secara utuh untuk bisa menjalankan peran masing-masing. (Kompas.com
30 Oktober 2014)
Wakil
Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR Ahmad Basarah, "Kami terpaksa mengambil
sikap dan keputusan politik untuk menyatakan mosi tidak percaya kepada pimpinan
DPR yang diketuai Setya Novanto dan empat wakilnya karena tidak memandang
aspirasi dan pemikiran lima fraksi Koalisi Indonesia Hebat," kata Basarah,
saat menggelar jumpa pers, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/10/2014).
Basarah
ridak percaya karena dari XI komisi yan ada di DPR tidak ada satupun yang
menguntungkan partainya alias partainya tidak ada yang menjadi salah satu dari
ketua komisi karena pada rapat paripurna Selasa, 28 oktober 2014 agenda pemilihan
pimpinan komisi dan alat kelengkapan yang hampir semua komisi DPR dikuasai oleh
Koalisi Merah Putih antara lain komisi yaitu Komisi I, II, III, IV, VI, VII,
VIII, IX, X, dan XI (Kompas.com 29 oktober 2014)
Dalam
rapat paripurna Selasa, 28 oktober 2014 agenda pemilihan pimpinan komisi dan
alat kelengkapan terdapat sebuah tragedi menjungkir balikan meja oleh ketua
fraksi Partai Persatuan Pembangunan Hasrul Azwar sampai menjungkirbalikkan meja
karena meradang ketika Wakil Ketua DPR Agus Hermanto dari Demokrat, selaku
pemimpin rapat, tidak menggubris penjelasan darinya. Karena ricuh, rapat
paripurna pun langsung ditutup.
Ini
merupakan perilaku yang sangat buruk yang ditunjukan oleh ketua fraksi karena
dia tidak terima dengan keputusan pimpinan sidang dia menjungkirbalikan meja,
pasti dalam masyarakat akan menyalahkan kan orang yang menjugkirbalikan meja
itu padahala kalau kita lihat kebelakang, siapa yang memilih orang seperti itu
samapi senayan, lihat pada diri sendiri dahulu karena yang memilih adalah orang
yang pertama kali disalahkan akan tragedi tersebut, karena dengan pilihannya
itu tragedi itu bisa terjadi, sebagai ketua fraksi juga tidak sepantasnya
melakukan itu, karena bisa membikin mosi tidak percaya lagi kepada anggota DPR
karena tingkah laku yang dia perlihatkan, ini sangat berbanding terbalik dengan
budaya politik indonesia yang katanya dipengaruhi besar karena etnis jawa, yang
merlihatkan
cara berekspresi melalui bahasa atau pola memperlihatkan mimik/perilaku, yang
diwujudkan lewat bahasa yang halus.
Hal ini karena perilaku mereka cenderung baik dengan wajah lembut atau
citra diri dengan mengungkapkan sebagai pemimpin yang melindungi rakyat.
Kelompok penguasa harus menampakan diri sebgai kelompok pemurah , baik
hati, dan melindungi seliruh rakyatnya,
karena ada maksude dengan menunjukan perilaku yang seperti itu bisa membikin
masyarakat memilih dia.
Ini akan semakin membuat miris disamping para calon anggota DPR yang
pura-pura baik dalam karakteristik pemilih masyarakat akan cenderung
primodialisme dimana calon anggota DPR yang berasal dari daerahnya akan
cenderung dipilih tanpa mengetahui bibit dan bobotnya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Simpulan
Perilaku
politik para aktor politik maupun masyarakat semakin kedepan bukan semakin baik
tapi semakin buruk entah mengapa ini bisa terjadi padahal manusia diidentikkan
semakin lama akan semakin belajar makan itu akan menghasilkan suatu yang baik
tapi pada keadaan yang sekarang para aktor politik sangat lah berperilaku buruk
pada rapat saja paripurna dalam pemilihan pimpinan komisi dan alat
kelengkapan saja sampai
menjungkirbalikan meja karena usulannya tidak diterima apalagi dalam
rapat-rapat yang lebih beasra dari pada itu seperti kenaikan DPR apa dia mau
membalikan kantor DPR sekalian.
Sudah
seperti itu hal ini di perburuk karena tidak memperoleh kekuasaan anggota DPR
sampai-sampai membikin pimpinan DPR tandingan ini sangat tidak masuk akal,
terus setelah itu apakah kubu tandingannya akan membuat presiden tandingan dan
menteri tandingan ini bisa membikin maslah yang ruyem lagi dalam DPR itu
sendiri disamping bisa menghambat kinerjanya bisa membuat mosi tidak percaya
kepadanya oleh masyarakat.
Masyarakat
yang cenderung hanya bisa menyalahkan
juga akan mewarnai buruknya tata pemerintahan yang sedang terjadi karena
masyarakat yang cenderung memilih dengan sistem primodialisme tanpa mengetahaui
bibit dan bobotnya setelah itu akan cenderung menyalahkan jika perilaku anggota
DPR buruk seperti tidak ada kaca dirumahnya karena yang memilih dia itu siapa?
B.Saran
Masyarakat
harus cerdas memilih calon pemimpinnya nanti bukan hanya dilihat dari asal
daerah yang sama tapi lihat apa yang dia bisa, bukan hanya dia kaya karena pada
era sebelumnya dia telah menjabat sebagai anggota DPR dan dia menyuarakan
berpengalaman bisa saja itu kata-kata kurang lengkat dia berpengalaman dalam
korupsi.
C.
Lampiran
Politikus PPP Ngamuk Banting Meja di Ruang Paripurna DPR
Selasa, 28 Oktober 2014 - 16:47 wib |
Arief Setyadi - Okezone
JAKARTA - Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Hasrul Azwar,
melakukan aksi anarkis dengan membanting meja di dalam ruang sidang paripurna
DPR.
Tindakan ini dilakukan Hasrul setelah pemimpin sidang menutup sidang
paripurna dengan penetapan anggota komisi dan alat kelengkapan dewan.
Kisruh tersebut diawali ketika pemimpin sidang, Agus Hermanto, menyampaikan
susunan anggota komisi dan alat kelengkapan dewan yang diserahkan oleh ketua fraksi
versi Suryadharma Ali (SDA) dan diketok palu. Tarik ulur dan hujan interupsi
pun terjadi terkait legitimasi penetapan anggota komisi dan alat kelengkapan
dewan yang diserahkan.
Hingga akhirnya, pimpinan sidang lainnya, Fahri Hamzah, mengusulkan karena
ada masalah internal di PPP maka susunan anggota komisi dan alat kelengkapan
dewan PPP diberi tenggat waktu untuk di revisi dan sidang sedianya ditunda
hingga Rabu 29 Oktober 2014.
Menurut Fahri, yang disampaikan pimpinan paripurna itu merupakan surat administrasi
yang berasal dari setjen. Susunan anggota komisi dan alat kelengkapan dewan
fraksi PPP juga ditanda-tangani oleh Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali. Terkait
penyampaian oleh pimpinan itu dilakukan sesuai amanat Undang-Undang MD3 dan
Peraturan Tata Tertib DPR.
"Kita tunda pemilihan alat kelengkapan dewan sampai besok pagi. Tapi,
apa yang sudah dibacakan sah. Jika besok ada perubahan lain lagi," ujar
Fahri dalam sidang paripurna DPR, Selasa (28/10/2014).
Usulan tersebut tidak bersambut lantaran hujan interupsi juga semakin
berkecamuk. Anggota Fraksi PPP yang juga Ketua Fraksi PPP versi SDA, Epyardi,
menyampaikan penolakannya atas penetapan Ketua Fraksi Hasrul Azwar sekaligus
hasil Muktamar VIII di Surabaya yang mengukuhkan Romahurmuziy sebagai Ketua
Umum PPP karena Muktamar yang sah sedianya pada 30 Oktober.
Terlebih dengan pernyataan Hasrul yang menyebut jika susunan anggota komisi
dan alat kelengkapan dewan yang disampaikannya itu tidak sah. Beberapa saat
kemudian, Hasrul kembali menyahut bahkan menyebutkan susunan terbaru dari DPP
PPP versi Muktamar VIII Surabaya itu sah dan sudah disampaikan ke Kementerian
Hukum dan HAM.
Hasrul kemudian maju ke meja pimpinan dan menyerahkan dua lampiran map yang
diduga merupakan susunan DPP PPP hasil Muktamar VIII Surabaya, dan menyampaikan
sesuatu kepada pemimpin, Agus Hermanto.
Namun, Agus justru langsung menutup sidang dan mengagendakan paripurna pada
esok hari.
"Sidang kita tutup. Masih ada yang mau menyampaikan nama-nama anggota
fraksinya? Kalau tidak ada kita tutup sidang ini. Tok," tutup Agus.
Hasrul yang masih berada di meja pimpinan tampak berang lantaran merasa
tidak diakomodasi dan langsung turun dan ia langsung mengobrak-abrik meja
anggota sidang paripurna. Hal ini sontak menarik perhatian dan menyarankan agar
tidak perlu melakukan hal tersebut.
Prabowo Heran KIH Bentuk Pimpinan
DPR Tandingan
Kamis, 30 Oktober 2014 | 20:46 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyesalkan niat baik
Koalisi Merah Putih (KMP) untuk mendukung kinerja Joko Widodo-Jusuf Kalla tak
bersambut di DPR. Koalisi Indonesia Hebat (KIH) justru membuat pimpinan DPR
sendiri sebagai tandingan untuk pimpinan DPR yang saat ini dikuasai KMP.
"Koalisi Merah Putih sejak awal memberi pengakuan kepada pemerintah.
Walaupun kami merasa banyak cara-cara yang merugikan kami, tapi kami ingin
suasana yang baik bagi bangsa dan negara ini," kata Prabowo di Jakarta,
Kamis (30/10/2014).
Prabowo mencontohkan, dia bersama elite KMP lain rela hadir saat pelantikan
Jokowi-JK dan memberikan selamat. Kehadiran itu, kata dia, adalah suatu niat
baik untuk membangun bangsa bersama-sama.
"Sebagaimana kalian ketahui, saya dan tokoh-tokoh KMP justru memberi
selamat kepada pemerintahan baru. Kita memberikan dukungan dan kita menganjurkan
pemerintahan baru untuk bekerja keras," ujar pesaing Jokowi-JK saat
Pilpres 2014 ini.
Terkait KMP yang menyapu bersih pimpinan DPR, MPR, dan alat kelengkapan
DPR, Prabowo menilai hal tersebut tak perlu dikhawatirkan. DPR, kata dia,
justru akan menjadi penyeimbang dan pengawas yang kuat bagi pemerintah.
"Demokrasi itu ada yang diberi mandat eksekutif dan ada yang di
legislatif. Legislatif yang kuat adalah sesuatu yang menguntungkan rakyat. Ada
pengawasan, ada koreksi, dan sebagainya. Kita berpikir positif. Kita
tidak mau menang kalah, menang kalah," ujar Prabowo.
"Saya kira tandingan-tandingan itu bentuk ketidakdewasaan. Enggak ada
itu tandingan. Ini sangat merugikan bangsa. Pikiran-pikiran seperti itu sangat
merugikan bangsa," tambahnya.
KIH membentuk pimpinan DPR sendiri karena mereka tidak puas dengan
kepemimpinan pimpinan DPR saat ini yang dikuasai oleh Koalisi Merah Putih,
khususnya dalam sidang paripurna terkait alat kelengkapan DPR. Mereka
mengangkat pimpinan DPR yang diketuai oleh Pramono dan terdiri dari empat wakil
ketua, yakni Abdul Kadir Karding, Saifullah Tamliha (PPP), Patrice Rio Capella
(Nasdem), dan Dossy Iskandar (Hanura).
Mereka juga meminta Presiden Joko Widodo menerbitkan Perppu UU MD3 dengan
harapan pemilihan DPR dipilih ulang. Mereka merasa UU MD3 itulah yang menjadi
sumber masalah sehingga pimpinan DPR akhirnya "disapu bersih" oleh
Koalisi Merah Putih.
DAFTAR PUSTAKA
Gaffar, Afan. 2006. Politik Indonesia Transisi
Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Surbakti, Ramlan.
2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: GRASINDO
http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/10/30/20404951/presiden.jokowi.berharap.kih.dan.kmp.bersatu (30/10/2014 23:30)
http://nasional.kompas.com/read/xml/2014/10/30/21195101/Ini.Alasan.Fraksi.Pendukung.Jokowi-JK.Gelar.Sidang.Paripurna.Tandingan (30/10/2014 23:30)
http://nasional.kompas.com/read/2014/10/30/20464011/Prabowo.Heran.KIH.Bentuk.Pimpinan.DPR.Tandingan (30/10/2014 23:30)
http://www.academia.edu/6840849/Teori_perilaku_politik_FAKTOR-FAKTOR_YANG_MEMPENGARUHI_PERILAKU_POLITIK (01/11/2014 19:30)
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perilaku_politik (01/11/2014 19:30)
http://pusham.unimed.ac.id/index.php/berita/88-keeogisan-aktor-politik (01/11/2014 19:30)
http://news.okezone.com/read/2014/10/28/337/1058021/politikus-ppp-ngamuk-banting-meja-di-ruang-paripurna-dpr (01/11/2014 19:30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar