Perilaku Politik Indonesia (Dalam Budaya)
Pada kebudayaan politik indonesia adanya sebuah
budaya yang dominan, yang berasal dari kelompok etnis yang dominan pula, yaitu
kelompok etnos jawa. Etnis ini sangat mewarnai sikap, prilaku, dan orientasi
politik kalangan elit politik indonesia, menurut anderson konsep tentang
kekuasaan dalam masyarakat jawa berbeda sekali dengan apa yang dipahami oleh
masyarakat barat. Karena, bagi masyarakat jawa kekuasaan itu pada dasarnya
konkri, besarannya konstan, sumbernya homogen, dan tidak berkaitan dengan
legitimasi. Meskipun begitu ada pemilihan yang tegas antara mereka yang
memegang kekuasaan, yang juga disebut sebagai kalangan priyayi. Hal itu di
perlihatkan dengan cara berekspresi melalui bahasa atau pola memperlihatkan
mimik/perilaku, yang diwujudkan lewat bahasa yang halus maupun yang kasar.
Implikasi dari pola pemilihan seperti ini adalah
pada kalangan birokratb menampakan diri dengan wajah lembut atau citra diri
dengan mengungkapkan sebagai pemimpin yang melindungi rakyat. Kelompok penguasa
harus menampakan diri sebgai kelompok pemurah , baik hati, dan melindungi seliruh rakyatnya. Akan
tetapi, kelompok penguasa memiliki anggapan yang merendahkan rakyat, karena
seorang pemimpin baik hari, pemurah dan pelindung harusnya rakyat tunduk dan
setia pada pemimpin itu. Pembangunan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah
sebagai wujud baik hatinya, tidak ada rakyat yang tahu apa-apa apalagi
memprotes kegiatan pemerintahan, dalam hal ini sangat minimnya transparansi
dalam kehidupan pemerintahan yang bisa menimbulkan korupsi dikalangan pemimpin.
Implikasi yang kedua negatif dari citra diri seperti
dalam kebijaksanaan publik, merupakan dominan atau kompetensi elit yang ada
dijakarta dan ibukota provinsi. Yang membentuk agenda publik yang disahkan oleh
Dewan Perwakilan Rakyat, dalam hal ini rakyat mulai tersisihkan dalam proses
poltik tidak adanya diskusi mengapa kebijakan seperti itu di terapkan, seperti
seragam sepatu siswa, apakah perlu? Pada era ini banyak anak yang tidak sekolah
karena tidak bisa membeli seragam sekolah dan akhirnya malu untuk pergi
sekolah, apa itu yang di inginkan pemerintah? semua tahu bahwa kebijakan ada
yang membebani rakyat dan menguntungkan rakyat segelintir penguasa yang mampu
memperoleh akses terhadap kalangan penguasa.
Dalam mengambil kebijakan seperti itu adanya ikut
serta kalangan pengusaha, terutama mereka yang tidak asli indonesia tahu
bagaimana meladeni pejabat indonesia, tidak jarang mereka mebentuk menjadi
client (pekerja) untuk memperoleh imbalan berupa kebijakan yang akan di tentukan
pemerintah atau kemudahan dalam berusaha. dalam budaya politik indonesia adanya
patronage dimana ada yang menjadi penguasa dan adanya yang menjadi pekerja atau
client ini selaras dengan yang dikemukanakan marx yaitu kum borjuis dan kaum
proletar. Untuk kebijakan karena seragam
sepatu siswa pasti pemerintah sudah kongkalikong dengan pabrik atau pembuat
sepatu mengenai kebijakan itu atau kalangan pengusaha memberikan kalangan
pejabat berupa tiket perjalanan, dana untuk kepentingan kegiatan pejabat, dana untuk
kampanye dan sebagainya, kalau anda memilhat sekeliling ruangan pejabat banyak
sekali kalangan pengusaha yang menampakan diri, yang sekarang terkenal dengan
istilah kolusi.
Kalangan penguasa yang memasuki dunia
pemerintahan, menurut heather sutherland,
memiliki gaya hidup tersendiri, ada yang suka dengan kemewahan kalau mengadakan
pesta dan menyenlenggarakan berhari-hari sekalipun uang mereka tidak terlalu
banyak mereka akan melalukan korupsi, korupsi bukanlah hal yang tidak umum
hanya saja kalangan pejabat pemerintah hanya menutup mata atas persoalan
tersebut.
Hal yang pernah terjadi pada bupati purwokerto pada
abab XX. Bupati tersebut memanipulasi dana dari masyarakat, dan ia berutang pda
paara pedangang cina dan arab yang ada di situ, dengan hobi yang dimiliki
sangat konsumtif pejabat mengeluarkan banyak atas hobinya itu. Misalnya,
berburu dan bermain golf. Mereka juga sanga senang mengadakan peninjauan. Kalau
mereka melakukan peninjauan akan disambut dengan meriah dan kalau kembali akan
dikasih hadiah yang berlimpah dari kalangan pejabat lokal yang menjadi
bawahannya.
Gambaran seperti itu, sudah dapat kita amati bahwa
perilaku kalangan birokrat pada masa sekarang ini merupakan kelanjutan dari apa
yang dilakuakn oleh pendahulu pada masa kolonial.
Dapat diamati dalam perpolitikan indonesia ada
sebuah kecenderunga akan munculnya budaya politik yang bersifat neo
patrimonalistik, dalam negara patrimonalistik penyelenggara negara pemerintahab
dan kekuatan militer berada dibawah kontrol langsung pemimpin negara
mempersiapkan segala sesuatunya pribadi.
Menurut weber negara patrimonalistik memiliki
karakteristik. Pertama, kecenderungan untuk menukarkan kan sumber daya yang
dimiliki seorang penguasa dengan temanya. Kedua kebijakan seringkali bersifat
partikularistik dari pada bersifat universalistik. Ketiga, rule of law sifatnya
sekunder dibanding dengan kekuasaan dari seorang penguasa (rule of man).
Keempat, kalangan penguasa politik seringkali mengaburkan antara mana yang
menyangkut kepentingan umum dan mana yang menyangkut kepentingan publik. Weber
juga mengatakan dalam patrimonalistik sulit untuk menentukan kebujakan yang
akan diambiltentu saja bertentangan dengan negara modren yang bersifat
rasionalistik sehingga segala sesuatunya dapat di prediksi.
Dari karakteristik yang dikemukakan weber dapat
ditemukan pada saat orde baru kekuasaan dari jakarta sampai daerah daerah
terlihat sangat patrimonalistik. Gejala yang dapat kita amati dijawa tengah,
selama sebelum dan pada waktu pemilihan umum merupakan suatu yang dapat
menjelaskan patrimonalistik negara orde baru, gubernur jawa tengah, soewardi,
membangun rumah dinas yang besar dan mewah dengan biaya 7,5 M, demikian juga
dengan pola promosi jabatan yang tidak mengikuti prosedur yang sudah baku.
Seorang camat yang telah memenangkan golkar melebihi target yang telah
ditentukan langsung memperoleh promosi menjadi asisten I Sekwilda Tingkat II.
Suatu lonjakan yang tidak pernah di pratekan sebelumnya.
Gejala terkahir yang perlu dicatat munculnya
anak-anak pejabat dalam politik . mereka menempati posisi strategis dalam
golongan karya pada skala nasional. Akan mengakibatkan tidak terkontrolnya
kekuasaan sehingga peluang munculnya civil society menjadi sanat terbatas.
Apalagi sosialisasi dan pendidikan politik yang bersifat doktriner.
Kecenderungan penguasa kita dalam menanamkan nilai dan keyakinan politik akan
menjadi individu menjadi obyek atau kekuasaan.
DAFTAR PUSTAKA
Gaffar, Afan. 2006. Politik
Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar